BERHIMPUN BERKARYA DAN BERHUNI BERSAMA – PENGALAMAN RAKYAT BRAZIL

berkota

[Pernah tayang di Indoprogress, ditampilkan kembali dengan ilustrasi yang lebih mendukung]

Sore itu sudah lewat pukul lima, tanggal tiga bulan lima, seminar ‘The Urban Project: Design with/by/for People – Design and Participation in Urban Development’ masih berjalan dengan seru di KU Leuven, Belgia. Padahal besok hari Sabtu. Biasanya para kolega dan mahasiswa sudah berangkat berakhir pekan, pulang ke kota dan desanya masing-masing, atau sekedar menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekat. Apalagi cuaca sedang bagus. Tapi ruangan auditorium masih lumayan penuh.

Presentasi terakhir dibawakan oleh Pedro Arantes, seorang arsitek dan penggiat komunitas dari São Paulo. Saya sudah terkantuk-kantuk, setelah sebelumnya banyak uraian soal ideologi dan pembangunan ruang kota dengan banyak contoh ‘urban renewal’[1] dari Amerika Serikat dan Eropa. Pedro membawakan studi kasus Brazil, negara yang sejak pertengahan abad 20 sudah terkenal dengan sistem perumahan rakyat yang relatif baik. Ketika presentasinya dimulai, saya optimis akan tertidur, sebab cerita soal Brazil rasanya tidak…

View original post 2,049 more words

Fun Theory

Volkswagen pada tahun 2009 melakukan eksperimen di ruang publik yang mereka namakan Fun Theory. Hasil dari percobaan tersebut langsung memperlihatkan bahwa perubahan perilaku manusia di ruang publik bisa diarahkan dengan salah satu caranya ya mengajak masyarakat untuk bersenang-senang.

Di stasiun, mereka menambahkan instrumen seperti piano di stepnya. Hasilnya 66% orang memilih menggunakan tangga musik dibanding eskalator.

Membuang sampah menjadi menyenangkan dengan adanya efek suara di tempat sampah. Cek link ini

(Sh)

Informasi Publik…. Bagaimana Cara Mendapatkannya?

  Sumber : ICEL

Seperti telah diketahui, sejak tahun 2008 kita memiliki peraturan hukum yang mengatur hak warga untuk mendapatkan informasi publik dari pihak berwenang yaitu Undang-Undang No 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP). Maknanya sesuai UU ini anda sebagai Warga Negara Indonesia bisa meminta informasi kepada pemerintah (termasuk jika anda merasa tidak puas atas tanggapan suatu badan publik). Yang dimaksud dengan Warga Negara Indonesia ini bisa perseorangan atau organisasi yang berbadan hukum.

Badan publik mana saja yang ada dalam cakupan UU ini? Pasti pertanyaan seperti itu akan muncul. Jawabannya adalah : anda berhak meminta informasi kepada seluruh badan publik.

Continue reading

Sekelumit Kisah Pohon

Fungsi pohon dalam Ruang Terbuka Hijau (RTH):

  1. Mengurangi polusi udara, meningkatkan kualitas udara, mereduksi radiasi UV, menurunkan suhu udara dan mereduksi gas rumah kaca #rthjkt
  2. Pohon bisa meningkatkan turbulensi & mengurangi kecepatan angin, karenanya bisanmenurunkan konsentrasi timbal dan partikel lain (debu) #rthjkt
  3. Seberapa banyak timbal yang bisa diendapkan pohon dipengaruhi : permukaan daun(semakin kasar semakin besar mengendapkan), ranting & dahan :  yang berbulu mengendapkan timbal lebih banyak dibandingkan yang licin #rthjkt
  4. Satu pohon usia 10 tahun memiliki kemampuan menyerap air sampai 7m3 #rthjkt
  5. 0,1 ha pepohonan mencukupi kebutuhan O2 untuk 18 orang, menyerap CO2 emisi mobil sedang berjalan ± 41.000 km #rthjkt

Sistem pohon:

Air diambil dari tanah melalui akar, batang & daun, kemudian diuapkan. Mineral diubah menjadi tepung & gula dalam larutan air melalui klorofil, diproses dalam daun & dengan bantuan cahaya matahari menjadi makanan bagi pohon. Melalui mulut daun(stomata), pori2 untuk bernapas (evaporasi) dikeluarkan pula udara(oksigen) sebagai hasil fotosintesis #rthjkt

Kebutuhan dasar pohon : kelembaban, tanah, cahaya matahari dan panas #rthjkt

Pohon besar dapat menyimpan 3000 galon/hari melalui sistem dedaunan –» fungsi pohon smkn penting #rthjkt

Air tidak bisa mengalir sendiri ke atas (batang, daun) kecuali melalui peresapan langsung dari lapisan tanah atau dari air permukaan #rthjkt

Tambahan : tanaman atau pohon yang akan ditanam dalam suatu Ruang Terbuka Hijau sebaiknya disesuaikan dengan kondisi lokal. #rthjkt

Dengan fungsi pohon seperti di atas, tidak heran jika pohon bisa dianggap sebagai refleksi kualitas lingkungan hidup. #rthjkt

POHON

by Avianti Armand on Friday, June 3, 2011 at 5:21pm

Anak laki-laki kecil itu tak tahu beda antara pohon jambu dan pohon mangga.

“Perhatikan,” kata saya, “daun jambu lebih lebar. Teksturnya sedikit kasar. Hijaunya muda.” Saya membiarkannya meraba permukaan daun itu. “Daun mangga punya proporsi lebih panjang, dengan tepi yang bergelombang. Permukaannya licin dan mengkilap, seperti dilapis plastik. Warnanya juga lebih gelap.” Anak itu mengangguk-angguk. Sayang, saat itu belum musim mangga maupun jambu. Pohon-pohon paling mudah dibedakan dari buah dan bunganya.

Dia mungkin satu dari sekian banyak anak seumurnya yang tak tahu bentuk pohon durian. Atau bahwa gandaria adalah nama sebuah pohon yang buahnya nikmat dijadikan sambal dan daunnya enak dilalap, bukan cuma satu mal raksasa di selatan Jakarta. Atau bahwa gambir adalah sejenis tanaman yang diambil getahnya untuk menyirih, bukan sekedar nama sebuah stasiun kereta. Atau bahwa nama Menteng, pemukiman elit di Jakarta Pusat itu, berasal dari pohon yang selain buah asamnya sering dibikin manisan atau sirup, kulit kayu dan daunnya juga berkhasiat menyembuhkan diare.

Dulu, pepohonan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Saya masih ingat bagaimana kami, anak-anak di kompleks, menanti-nanti dengan tak sabar pentil-pentil mangga di belakang rumah siap diunduh untuk dibikin rujak. Saya juga tak mungkin lupa pada dua pohon kemboja besar di depan rumah yang kami jadikan “markas” – satu untuk anak-anak perempuan, yang lain untuk anak-anak laki-laki. Tiap siang sepulang sekolah, kami akan menggerombol di sana – menggunakan dua pohon tersebut sebagai “benteng”, tempat sembunyi, atau sekedar tempat bertengger. Orang yang lewat akan melihat anak-anak kecil duduk di batang-batang besar kemboja itu.

Dulu, pohon-pohon adalah hal-hal yang kita kenal dekat. Karena itu, tempat-tempat ditandai dengan pohon – sesuatu yang menjulang dan tetap. Kini tidak lagi. Meski nama-nama itu telanjur melekat – Karet, Kelapa Dua, Mangga Besar, Mangga Dua, Bintaro, Duren Sawit, Malaka, Salihara, …. – pohon-pohon itu tak lagi dekat. Bahkan mungkin sudah tak ada.

Di Jakarta, pohon memang makin langka. Deretan koridor hijau di sepanjang jalan Pangeran Antasari – Blok M, kini telah lenyap. Untuk pembangunan jalan layang yang akan melintas daerah tersebut, 554 pohon ditebang. Protes dengan coretan-coretan “DEMI FLY OVER POHON GAME OVER” di sepanjang jalan itu, tak punya efek apa-apa. Sebagai ganti, mungkin juga sebagai penghibur, di pagar proyek yang melingkupi pekerjaan kaki-kaki jembatan, dipasanglah gambar jembatan layang dengan hutan hijau di bawahnya. Sebuah kebohongan karena pohon besar tak tumbuh di bawah jembatan.

Kota, meski sering disebut ‘direncanakan’, pada kenyataannya berkembang seperti tanpa rencana. Dengan bertambahnya manusia penghuni, bertambah pula jumlah dan kompleksitas kebutuhan akan pemukiman dan segala macam sarana penunjangnya: rumah sakit, sekolah, perkantoran, museum, teater, pasar, jalan-jalan, gym, ruang terbuka hijau, mal, dan lain-lain.

Tentu ada perhitungan dan perbandingan yang ideal dari jumlah dan luasan semua unsur-unsur fisik penyusun kota di atas.  Tapi perencanaan tidak selamanya diambil untuk kepentingan bersama dan dikendalikan oleh kebutuhan akan yang ideal. Sejauh ini yang selalu kita lihat, justru “pasar” memegang kendali.

Yang tersingkir dari kota lalu adalah hal-hal yang tidak memiliki nilai komersial. Ruang Terbuka Hijau (RTH), tempat pohon bisa tumbuh dan berbiak, menduduki tempat teratas karena harganya tak terbentuk dalam dan oleh “pasar”.

Karena itu, kita tak lagi heran bahwa Jakarta yang memiliki luasan 665 kilometer persegi, ternyata hanya memiliki luas RTH sekitar 65,17 km2, atau sekitar 9,8 % dari luas kota. Idealnya – seperti juga telah diatur dalam undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 – luas RTH minimal 30% dari luas wilayah kota. Lalu sisanya bisa didapat dari mana? Entah. 20,2 % dari 665 kilometer persegi bukan luasan yang sedikit. Satu persen saja berarti 665 hektar atau sama dengan enam kali  lapangan Monas.

Ruang Terbuka Hijau itu penting. Bukan sekedar agar anak-anak kita bisa menghapal bentuk-bentuk pohon dan nama-namanya. Profesor Eko Budiharjo, ahli tata lingkungan, mengatakan bahwa keberadaan RTH  seluas 30 hektar yang dipenuhi pepohonan dapat menurunkan suhu lingkungan kurang lebih 2,5° celcius. Pepohonan rindang adalah kanopi yang menahan radiasi panas matahari hingga tak mencapai tanah yang diteduhinya. Untuk bisa bekerja dengan nyaman, manusia perlu berada dalam suhu yang berkisar antara 18° hingga 27° celcius. Rata-rata temperatur Jakarta sekarang adalah 25° hingga 35° celcius. Jika kita bekerja di lingkungan yang dipenuhi pohon, mungkin kita tak memerlukan mesin pendingin lagi.

Ruang Terbuka Hijau juga berfungsi untuk meredam debu yang mengganggu kesehatan lingkungan. Debu, dalam bentuk partikel kecil, yang terserap ke dalam sistem pernapasan dalam jumlah tertentu dapat mengakibatkan gangguan kesehatan yang serius. RTH seluas 10 hektar dapat menurunkan kandungan debu di udara dari 7000 partikel/liter menjadi hanya 4000 partikel/liter. Satu jumlah yang sangat berarti di tengah kota yang penuh polusi.

Seperti telah kita ketahui, pohon-pohon juga mampu menekan kadar CO2 dalam udara. Mereka pun penghasil O2 yang cukup efektif. Selain itu, polusi suara yang kerap dikeluhkan oleh penghuni kota, bisa dikurangi oleh pohon-pohon ini karena mereka sanggup meredam getaran.

Hal yang tentu tidak boleh dikesampingkan adalah hadirnya Ruang Terbuka Hijau menciptakan suasana “segar” di kota, di antara belantara beton yang tumbuh makin riuh.

Kembali ke 20,2% luas RTH yang harus dipenuhi – bagaimana caranya?

Pemerintah kota yang, mungkin, putus asa berdalih bahwa Ruang Terbuka Hijau milik pribadi akan dihitung untuk memenuhi jumlah 30% tersebut. Bisa begitu? Tentu tidak. Karena selain memiliki fungsi ekologis, ruang terbuka hijau juga harus memenuhi fungsi sosialnya. Seperti menjadi tempat ibu-ibu membawa bermain anak-anaknya di pagi dan sore hari, tempat pacaran bagi para remaja yang belum punya uang untuk dinner, tempat bersenam kesegaran jasmani bagi para manula, tempat melemaskan otot kaki, membaca buku di kerindangan, atau  sekedar berada di tempat yang sama dengan berbagai macam orang, yang “segolongan” maupun beda. Ruang Terbuka Hijau adalah tempat di mana kita bisa berlatih bertoleransi dan berbagi.

Karenanya, kita bisa menyebut upaya pemerintah kota itu sebagai “akal-akalan”. Jakarta dilihat dari atas (dengan bantuan Google Map) memang akan memaparkan ruang hijau yang cukup besar. Di area Pondok Indah saja kita bisa menyaksikan bentang hijau luas dari Pondok Indah Golf  dan lapangan olah raga Jakarta International School. Di Cipete, ada satu perumahan eksklusif yang masing-masing punya taman ribuan meter. Masing-masing dengan kolam renang. Tapi ruang-ruang tersebut bukan milik publik, tak bisa diakses oleh publik, dengan demikian tak memiliki manfaat sosial bagi publik.

Saya cuma berharap ada dana-dana yang diprioritaskan bagi perluasan Ruang Terbuka Hijau di kota ini. Untuk itu dibutuhkan pemerintah kota yang punya visi jangka panjang dan tidak berpikir sektoral. Kita, yang hidup di hari ini, mungkin  tak akan merasakan manfaatnya dalam waktu dekat. Tapi, saya yakin, kita semua tak ingin anak-anak kita hanya mengenal pohon-pohon sebagai nama tempat atau jalan dalam kompleks-kompleks perumahan.

RUANG TERBUKA HIJAU SUSUT 90 HA PER TAHUN

Pernah dimuat di KOMPAS Jumat, 02-02-2007. Halaman: 28

Lingkungan

Jakarta, Kompas

Kerusakan lingkungan di DKI Jakarta semakin parah akibat penyusutan ruang terbuka hijau atau RTH seluas 90 hektar per tahun.

Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jakarta, Slamet Daroini dalam seminar “Potret Kerawanan Sosial DKI Jakarta” di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang, Kamis (1/2), mengatakan, dalam kurun 2000- 2004 hilang 450 hektar (ha) RTH.

“Padahal, RTH memiliki fungsi sosial dan ekologis. Penyusutan RTH berarti kehilangan ruang rekreasi, tempat bermain, dan evakuasi,” ujar Slamet.

Minimnya RTH akan berdampak serius saat terjadi bencana, seperti gempa bumi ataupun kebakaran. Slamet menyebutkan, kasus gempa bumi di Yogyakarta tahun lalu membuktikan banyakkorban jatuh karena bangunan terlalu rapat dan kawasan hunian yang tidak menyisakan RTH. Kondisi di Jakarta jauh lebih buruk.

Menurut Slamet, RTH yang tersisa untuk evakuasi hanya terdapat di Monas, Senayan, dan Ancol. Dalam keadaan kacau saat terjadi bencana sulit menjangkau ketiga lokasi tersebut.

“Penduduk Jakarta dengan kepadatan mencapai 14.000 orang per kilometer persegi menambah parah tingkat kerawanan saat terjadi bencana,” katanya.

Lebih memprihatinkan, kata Slamet, penyusutan berlangsung terstruktur akibat kebijakan pemerintah yang dalam Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) 1965-1985 mengalokasikan 27,6 persen atau 18.000 hektar lahan sebagai RTH, menyusut menjadi 16.908 hektar pada RUTR 1985-2005 atau tersisa 26,01 persen.Kondisi terakhir pada RUTR 2000-2010 turun drastis hanya 9.500 hektar atau 13 persen saja.

Ini mengakibatkan kondisi lingkungan semakin menurun. Pada tahun 2006, hanya 26 hari dalam setahun udara DKI Jakarta digolongkan layak dan tidak melampaui polusi yang mematikan. Polusi udara Jakarta tercatat ketiga terburuk di dunia setelah Mexico City dan Bangkok. Akibatnya, 90 persen penduduk DKI Jakarta terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Limbah sampah di Jakarta pun meningkat menjadi 6.500 ton per hari dan sekitar 13 persen di antaranya tidak tertampung di tempat pembuangan.

Pada tahun 2004, menurut Slamet, jumlah sampah baru mencapai 6.000 ton per hari. Hal itu memicu banjir dan berbagai bencana lingkungan serta kesehatan lainnya.(ong)